CIRI-CIRI WARGA KERAJAAN ALLAH (UCAPAN BAHAGIA)
(Mei 2010)
Kita akan sama-sama belajar apa yang firman Tuhan katakan tentang orang-orang yang diberkati yang merupakan ciri-ciri warga kerajaan Allah. Ucapan bahagia, dalam Mat 5:1-12 ini perikop yang sangat terkenal saudara. Dari literatur lain yang saya baca, perikop ini bukan hanya ucapan bahagia tetapi ternyata berbicara mengenai ciri-ciri warga kerajaan Allah. Dalam terjemahan bahasa Inggris, kata “berbahagia” di sini menggunakan kata “blessed (= diberkati)”, diberkatilah orang-orang yang mengalami apa yang disebutkan dalam ayat-ayat berikut ini:
Ayat 3:
Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Kata “miskin di hadapan Allah” juga diterjemahkan sebagai miskin sebagai “miskin dalam roh (poor in spirit)” Miskin di hadapan Allah, bukan berarti kita menjadi orang yang miskin secara lahiriah dalam status sosial dan ekonomi kita. Miskin di hadapan Allah ini berarti kita memiliki roh yang selalu menginginkan Tuhan. Tidak pernah bisa merasa puas dengan kondisi rohani yang biasa-biasa saja, kondisi rohani yang sudah ada saat ini, tetapi selalu ingin mencapai tingkatan yang lebih lagi dalam pertumbuhan rohani. Ini juga bisa berarti suatu keadaan dimana kita, dengan sadar mengakui bahwa kita tidak memiliki apapun yang bisa dibanggakan, dipertahankan dan diandalkan selain Tuhan. Kebalikan dari kesombongan rohani yang selau merasa puas dan cenderung membanggakan diri. Tetapi kita juga perlu berhati-hati dengan sikap hati yang mengasihani diri dan merasa tidak bisa apa-apa, pemikiran dan sikap yang melemahkan hati ini sangat berbeda dengan “miskin rohani”. Mereka yang tidak lagi mempertahankan dan fokus dengan semua yang mengenyangan daging, tetapi lebih memilih untuk mengosongkan diri dan hanya puas dengan Allah dan apa yang dariNya, merekalah yang dikatakan akan mewarisi/memiliki kerajaan sorga.
Ayat 4: Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.Saudara, orang yang berdikacita di sini maksudnya bukanlah orang yang selalu bersedih, bermasalah dan penuh dengan pergumulan hidup yang berat sehingga ia tidak bisa bersukacita. Dukacita yang dikatakan di sini bukanlah dukacita karena masalah, tetapi suatu perasaan yang mendalam yang disebabkan oleh dosa, jadi berdukacita (bahkan mungkin digambarkan sampai meratap) karena atau saat melakukan dosa. Yaitu mereka yang tidak berkompromi dengan dosa, yang untuk menjaga dirinya dan berjuang melawan dosa. Orang-orang ini adalah mereka yang akan sangat bersedih dan meratap jika mereka sampai mendukakan Roh Allah dengan melakukan dosa.
Dikatakan di sini, berbahagialah -diberkatilah- mereka yang berdukacita karena dosa. Saudara, kita harus peka dan jangan sampai hati nurani mulai tumpul dan akhirnya mati. Mari kita mulai introspeksi diri kita, bagaimana reaksi kita ketika kita melakukan dosa? Apakah ada rasa bersalah atau kita merasa biasa-biasa saja. Hati-hati saudara saat hati nurani kita tidak lagi peka dengan dosa, kita mulai kompromi dengan dosa, maka kita sedang menuju kepada kebebalan. Biasanya kebebalan berawal dari pelanggaran/kesalahan atau hal-hal yang kita anggap sepele yang terus ditoleransi sehingga tanpa sadar pengaruhnya semakin besar dan mulai menguasai kita. Seringkali kita bingung dengan yang namanya “wilayah abu-abu” (hal-hal yang sulit dibedakan apakah itu merupakan dosa atau tidak) dan ini yang selalu dipakai iblis untuk menipu/memanipulasi pikiran kita sehingga kita berpikir “hal-hal” tersebut tidak masalah untuk dilakukan. Kita harus belajar mengenali segala sesuatu yang merupakan dosa di mata Tuhan dan mendisiplin daging kita untuk taat pada peringatan Roh kudus. Dari awal kita harus mulai sadar dan memutuskan hubungan kita dengan dosa. Semakin kita dekat dengan Tuhan maka kita akan semakin memiliki kepekaan, perasaan yang tidak damai sejahtera dan dukacita mendalam saat kita melakukan dosa. Ini yang harus kita kejar saudara, kepekaan dan dukacita karena dosa.
Sebagian orang dengan pengetahuan dan pengertian yang tidak tepat akan kasih karunia Tuhan, mulai menyalah-gunakannya. Hari ini dengan sadar berbuat dosa kemudian tanpa rasa bersalah berharap bisa dengan mudah minta ampun kepada Tuhan. Saudara, jangan mempermainkan kasih karunia Tuhan, motivasi hati kita itu yang Tuhan lihat, kesungguhan hati kita untuk bertobat.
Selain itu, dukacita di sini juga berbicara mengenai belas kasih kepada sesama dan dukacita karena jiwa-jiwa yang belum mengenal keselamatan. Apakah saat ini kita juga berdoa, berkabung untuk keselamatan orang lain, mungkin orang-orang yang kita kenal, keluarga dan teman-teman yang kita kasihi atau siapa saja yang Tuhan perayakan kepada kita untuk didoakan. Bahkan merupakan bagian kita untuk berdoa mempertahankan dan mengusahakan kesejahteraan tempat, kota dan bangsa kita saudara. Menabur dalam doa, memperkenalkan keselamatan dalam Yesus Kristus dan menyaksikan kasihNya yang besar dalam hidup kita.
Ayat 5: Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi
Lemah lembut di sini berhubungan dengan respon hati kita, kerendahan hati, orang yang lemah lembut adalah orang yang mudah dibentuk. Memiliki roh yang mudah diajar oleh Tuhan, mudah menerima teguran dari Tuhan dan mewujudkannya dalam pertobatan dan perubahan. Tidak banyak orang yang memiliki hal ini saudara, kebanyakan justru memiliki pertahanan dan pembelaan diri yang begitu kuat. Sehingga kita sulit untuk ditegur dan diubahkan Tuhan, saat kita selalu mempertahankan apa yang salah dalam diri kita dengan pembelaan dan pembenaran-pembenaran diri bukan suatu kesadaran untuk memperbaiki. Ketika dosa masuk pertama kali di dunia itu lewat pembenaran diri Adam dan Hawa serta kecenderungan untuk menyalahkan orang lain. Itulah mengapa sampai saat ini manusia selalu penuh ego dan tidak mau disalahkan.
Ditegur atau dikoreksi/dikritik memang tidak enak saudara, tetapi kita sangat perlu memiliki roh yang lemah lembut, kerendahan hati untuk ditegur dan dibentuk Tuhan. Kita mulai belajar untuk mengakui kesalahan, mengintrospeksi diri dan mau menerima teguran. Orang yang selalu mengintrospeksi diri dan mau berubah akan terus mengalami perkembangan yang progresif/meningkat dalam hidupnya tidak stagnan/berhenti. Sedangkan tanpa kelembutan hati, tidak pernah mengintrospeksi diri karena pembelaan dan pembenaran-pembenaran pribadi yang berlebihan, kita akan terus dalam keadaan yang sama tanpa perubahan dan peningkatan kualitas rohani dan karakter kita.
Firman Tuhan dalam Maz 37:11 berkata; “Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah.” Orang yang rendah hati, mau menerima teguran dan bentukan Tuhan dengan hati yang lembut, meraka lah yang akan mewarisi negeri yaitu berbicara tentang menerima janji-janji Tuhan selama mereka hidup di bumi. Banyak diantara kita yang mungkin menerima janji-janji Tuhan baik janji Tuhan yang ada dalam firmanNya maupun janji pribadi kepada masing-masing kita, namun tidak pernah menerima kegenapan janji tersebut karena tidak pernah mau dibentuk dan ditegur Tuhan. Selalu memandang teguran kasih Tuhan atau sesama orang percaya, dengan keangkuhan.
Ayat 6: Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
Berbicara mengenai lapar dan haus, ini berhubungan dengan keinginan untuk melakukan atau mendapatkan sesuatu. Saudara kita harus memiliki hal ini, rasa lapar dan haus akan kebenaran yang sejati dari Tuhan. Dalam terjemahan alkitab sehari-hari, orang yang lapar dan haus akan kebenaran disebutkan sebagai orang yang rindu melakukan kehendak Allah. Jadi selalin kerinduan dan rasa lapar akan kebenara yang sejati ini juga berarti hati yang selalu berfokus pada; apa yang Tuhan kehendaki untuk dilakukan, rindu untuk selalu menyenangkan Tuhan. Saudara, dalam segala hal kita harus selalu berfokus pada kehendak Tuhan, dalam studi, pekerjaan/usaha, berkomitmen dengan pasangan, rumah tangga kita harus selalu mengutamakan kehendak Tuhan. Mintalah kepada Tuhan untuk memiliki hati yang selalu rindu untuk melakukan kehendak Tuhan dan menyenangka hatiNya sampai kita benar-benar merasa tidak pernah puas sebelum kita melakukan kehendak Allah atau menyenangkan hatiNya.
Ayat 7: Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
Orang yang murah hati di sini artinya bukan hanya sekedar orang yang suka memberi tetapi kemurahan yang diserta oleh sikap yang adil dan benar. Lebih mengarah kepada mercy (belas kasih) yaitu memberikan sesuatu kepada seseorang bahkan ketika orang tersebut tidak layak untuk menerima pemberian kita. Memberi bahkan berkorban untuk seseorang/sesuatu yang tidak mendatangkan keuntungan bagi kita, melayani mereka yang tertolak, mereka yang tidak dianggap dan dikesampingkan. Menerima dan merawat mereka yang dibuang dunia, itulah yang dilakukan oleh orang-orang yang murah hati. Termasuk pemberian-pemberian kecil yang mungkin tidak dipandang orang namun dilakukan dengan ketulusan dan kasih. Dan firman Tuhan katakan, orang yang murah hati, mereka yang akan beroleh kemurahan. Jadi Tuhan itu tidak pernah berhutang pada kita saudara, ketika kita memiliki karakter ini, tetapi bukan karena terpaksa dan karena ada maksud-maksud yang tidak murni, maka kita pun diberi sesuatu yang seharusnya tidak layak untuk kita terima.
Ayat 8: Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
Orang yang suci hatinya yaitu orang-orang yang memiliki hati yang murni, tulus, tidak ada trik (licik). Tuhan mencari orang-orang yang murni hatinya, yaitu yang berfokus pada satu tujuan, hati yang terarah hanya kepada Tuhan dan kehendakNya yang sempurna. Saudara sudahkah kita menjadi orang-orang yang murni dalam mengikut Tuhan? Atau dengan kelicikan untuk memperoleh keuntungan pribadi? Ini merupakan hal yang sangat penting saudara, Tuhan hanya akan memakai orang yang murni hatinya, bukan orang yang hatinya kotor yang penuh intrik kepada Tuhan, yang mengikut Tuhan karena tujuan-tujuan terselubung yang tidak tulus. Dalam firman Tuhan dikatakan orang yang suci hatinya akan “melihat Allah” atau dalam terjemahan lain dikatakan akan “mengenal Allah”. Pengenalan kita kepada Allah secara pribadi membuat kita tidak akan pernah curiga dan kecewa dengan Tuhan. Kita bisa tetap percaya dan berharap kepadaNya karena kita mengenal karakterNya, dan hanya orang yang murni/suci hatinya yang bisa mengenal Allah.
Ayat 9: Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
Firman Tuhan berkata kita bisa disebut dan dikenal sebagai anak-anak Allah salah satunya yaitu dari karakter atau sikap kita yang membawa damai. Yesus adalah Raja Damai, Dialah yang sulung diantara banyak saudara yaitu kita sebagai anak-anak Allah. Seperti halnya Kristus sebagai anak Allah menjadi pembawa damai, maka kita pun harus menjadi orang yang membawa damai ke mana pun kita pergi. Orang yang bisa membawa damai hanyalah mereka yang telah mengalami dan meimiliki damai. Ketika kita sedang dalam keadaan tidak berdamai, ingin marah atau mungkin dalam ketakutan, khawatir, sedang dalam banyak masalah atau sedang tertuduh karena dosa, kira-kira apakah kita bisa membawa damai, saudara? Saat kita penuh dengan kepahitan, luka dan dendam kita tidak mungkin bisa memancarkan damai saudara. Jadi kita harus mengalami damai itu dulu saudara, dalam Yoh 14:27 “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Tuhan telah menjanjikan dan memberikan damai sejahteraNya yang tidak sama dengan yang diberikan dunia kepada kita.
Mungkin selama ini kita tidak/belum pernah mengalami dan memiliki damai yang dari Allah karena memiliki dan mengejar damai dengan standart kita sendiri. Damai yang bergantung pada apa kata dunia, seperti kekayaan dan jabatan atau mungkin pasangan yang membuat kita merasa aman dan memenuhi semua keinginan kita. Sehingga saat kita belum memiliki semua itu kita menjadi takut dan khawatir, bahkan banyak yang sampai jatuh ke dalam dosa dan terlibat banyak masalah karena mengejar kedamaian dengan hal-hal yang dunia tawarkan. Mungkin sampai pada titik tertentu kita bisa menikmati kedamaian dari semua yang dapat kita capai dan peroleh di dunia; uang/kekayaan, pasangan, karir dan lain-lain tetapi itu semua sifatnya sementara. Kebahagiaan dan kedamaian kita bukan ditentukan oleh apa yang dari luar, tetapi mengalir keluar dari dalam hati saat kita memiliki Roh Allah yang kudus. Karena damai sejahtera dan kebahagiaan kita yang sesungguhnya bersumber dari Tuhan.
Ayat 10-12: Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.
Tiga ayat ini berbicara hal yang sama yaitu berbahagialah atau diberkatilah jika oleh karena kebenaran kita dianiaya. Adakalanya kita harus menanggung penderitaan, dihina dan dipersalahkan saat kita melakukan apa yang benar. Saat kita mau tetap setia meskipun usaha kita kelihatannya tidak banyak mendapat keuntungan karena kita jujur sementara orang lain mendapatkan banyak keuntungan dengan bisnis kotor dan penuh tipuan. Ini bukan hal yang mudah saudara, banyak orang yang tidak setuju dangan prinsip hidup dalam kebenaran, bahkan tidak sedikit yang dicelah oleh orang-orang terdekat karena imannya kepada Tuhan. Tetapi firman Tuhan berkata; berbahagialah atau diberkatilah jika karena mengikut Yesus dan radikal dalam kebenaran firmanNya, kita dianiaya oleh dunia karena kita akan memiliki kerajaan sorga. Karena Tuhan memperhitungkan semua yang kita lakukan dan kesetiaan kita. Jadi, saudara mari kejarlah apa yang kekal, tetap setia dalam jalan-jalan Tuhan.
Christin Jedidah